YOGYAKARTA | GEMPAR.co – Rumah bersejarah milik Pahlawan Nasional dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Kota Yogyakarta, resmi ditawarkan kepada sejumlah pihak. Ahli waris berharap bangunan bernilai sejarah tinggi tersebut tetap dimanfaatkan sebagai aset pendidikan maupun sosial, bukan dialihfungsikan menjadi tempat usaha komersial.
Rumah bergaya klasik dengan atap segitiga khas itu dikenal sebagai salah satu saksi perjalanan sejarah pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Selain menjadi kediaman pribadi dr Sardjito, bangunan tersebut juga disebut pernah menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi sejumlah tokoh nasional pada masanya.
dr Sardjito merupakan tokoh penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia tercatat sebagai Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada periode 1950–1961, sekaligus pernah memimpin Universitas Islam Indonesia (UII) selama sembilan tahun.
Pengelola rumah sekaligus penerus usaha jamu tradisional dr Sardjito, Budhi Santoso, mengatakan keputusan menjual rumah dilakukan setelah adanya kesepakatan keluarga besar. Langkah itu diambil demi menghindari persoalan pengelolaan warisan di kemudian hari.
“Dengan berat hati keluarga akhirnya sepakat melepas rumah ini. Harapannya, yang membeli benar-benar pihak yang mampu menjaga nilai sejarah dan semangat perjuangan dr Sardjito,” ujarnya.
Menurut Budhi, apabila rumah tersebut dapat dimiliki institusi pendidikan seperti UGM atau UII, maka nilai historis dan fungsi sosialnya diyakini masih bisa dipertahankan. Bangunan itu dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai museum, rumah dinas, pusat edukasi, hingga fasilitas pelayanan masyarakat.
Ia menegaskan, keluarga dan pengelola berharap rumah peninggalan tokoh nasional itu tidak berubah menjadi tempat hiburan atau usaha komersial seperti kafe.
“Kalau dijadikan tempat komersial tentu sangat disayangkan. Kami berharap rumah ini tetap memiliki fungsi sosial dan pendidikan,” katanya.
Selama puluhan tahun terakhir, kondisi rumah disebut masih terawat dengan baik. Nuansa lawas bangunan tetap dipertahankan, mulai dari lantai ubin merah hingga sejumlah interior asli peninggalan keluarga.
Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan, dr Sardjito juga memiliki perhatian besar terhadap pengobatan tradisional. Dari rumah tersebut, ia disebut pernah mengembangkan ramuan herbal, termasuk obat peluruh batu urine yang dibuat untuk membantu pengobatan istrinya.
Budhi yang telah merawat rumah tersebut selama lebih dari empat dekade mengaku mulai merasa berat untuk melanjutkan pengelolaan karena faktor usia. Saat ini, rumah itu telah ditawarkan kepada sejumlah pihak, termasuk institusi pendidikan dan pemerintah daerah.
Pihak keluarga berharap rumah bersejarah tersebut tetap menjadi simbol pengabdian, pendidikan, dan perjuangan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Laporan: Taufik Hidayat | Editor: Redaksi GEMPAR.co











