KABUPATEN Karawang merupakan salah satu daerah tertua di Provinsi Jawa Barat yang memiliki sejarah pemerintahan panjang sejak abad ke-17. Berdasarkan catatan resmi Pemerintah Kabupaten Karawang, hari jadi Karawang ditetapkan pada tanggal 14 September 1633, bertepatan dengan pengangkatan Kiayi Panembahan Singaperbangsa sebagai Adipati atau Bupati pertama Karawang. Momentum tersebut menjadi awal terbentuknya pemerintahan Karawang yang terus berkembang hingga sekarang.
Pada masa awal berdirinya, Karawang masih berupa wilayah agraris yang dipenuhi rawa, sungai, dan lahan pertanian luas. Nama “Karawang” dipercaya berasal dari kata “Ka-rawa-an” yang berarti daerah rawa. Wilayah ini berkembang menjadi pusat pemerintahan penting di tanah Sunda karena letaknya strategis di jalur perdagangan dan pertahanan Pulau Jawa. Para bupati pertama Karawang berasal dari kalangan bangsawan Sunda yang memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat.
Bupati pertama Karawang adalah Kiayi Panembahan Singaperbangsa (R.A. Kertabumi IV) yang memimpin sejak tahun 1633 hingga 1679. Ia dikenal sebagai tokoh penting dalam pembentukan pemerintahan Karawang dan dianggap sebagai pendiri Kabupaten Karawang. Pada masa kepemimpinannya, sistem pemerintahan mulai ditata, wilayah pertanian diperluas, serta kehidupan masyarakat mulai berkembang secara teratur. Hingga kini, nama Singaperbangsa sangat dihormati masyarakat Karawang dan diabadikan menjadi berbagai nama jalan, institusi, dan simbol daerah.
Setelah masa Singaperbangsa, pemerintahan Karawang dilanjutkan oleh para adipati dan bupati berikutnya. Secara berturut-turut kepemimpinan diteruskan oleh:
- Raden Anom Wirasuta (R.A.A Panatayuda I) tahun 1679–1720
- Raden Jayanegara (R.A.A Panatayuda II) tahun 1721–1731
- Raden Singanegara (R.A.A Panatayuda III) tahun 1731–1752
- R.M. Soleh / Dalem Balon (R.A.A Panatayuda IV) tahun 1752–1786
- Dalem Suro (R.A.A Singasari Panatayuda) tahun 1786–1811
- Raden Adipati Surialaga tahun 1811
- Raden Adipati Sastradipura tahun 1811–1820
- Raden Adipati Surianata tahun 1820–1827
- Raden Dalem Santri / R.A. Suriawinata I tahun 1827–1830
- Raden Dalem Solawat / R.A. Suriawinata II tahun 1830–1849
- Raden Sastranegara tahun 1849–1854
- Raden Tumenggung Aria Sastradiningrat I tahun 1854–1863
- Dalem Bintang R. Adikusumah (R.A.A. Sastradiningrat II) tahun 1863–1886
- Raden Suriakusumah (R.A.A. Sastradiningrat III) tahun 1886–1911
- Raden Adipati Gandanegara tahun 1911–1925
- Raden A.A. Sumamihardja tahun 1925–1942
Pada masa tersebut, Karawang berkembang menjadi daerah pertanian yang sangat penting bagi pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sistem irigasi mulai dibangun untuk mendukung produksi padi sehingga Karawang dikenal sebagai salah satu lumbung beras terbesar di Jawa Barat. Walaupun berada di bawah pengaruh kolonial, para bupati tetap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat dan menjadi tokoh penting di daerahnya.
Memasuki masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Karawang mengalami perubahan besar. Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, jabatan bupati menjadi bagian resmi dari pemerintahan Republik Indonesia. Pada periode ini, para bupati Karawang memiliki peranan penting dalam menjaga stabilitas daerah dan mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bupati Karawang pada masa awal kemerdekaan hingga era modern secara berturut-turut adalah:
- Raden Panduwinata tahun 1945
- Raden Djuarsa tahun 1945–1948
- Raden Ateng Surapraja tahun 1948–1949
- Raden Hasan Surya Satjakusumah tahun 1949–1950
- Raden H. Rubaya Suryanatamihardja tahun 1950–1951
- Moh. Tohir Mangkudijoyo tahun 1951–1961
- Letkol Inf. Husni Hamid tahun 1961–1971
- Letkol Inf. Setia Syamsi tahun 1971–1976
- Kolonel Inf. Tata Suwanta Hadisaputra tahun 1976–1981
- Kolonel Cpl. H. Opon Supandji tahun 1981–1986
- Kolonel Czi. H. Sumarmo Suradi tahun 1986–1996
- Kolonel Inf. Drs. H. Dadang S. Muchtar tahun 1996–2000
- H. Daud Priatna, SH tahun 2000–2005
- dr. H. Ade Swara, MH tahun 2010–2014
- dr. Cellica Nurrachadiana tahun 2016–2023
- H. Aep Syaepuloh, SE tahun 2023–sekarang.
Pada era pembangunan nasional, Karawang mengalami perubahan besar dari daerah agraris menjadi kawasan industri modern. Para bupati pada masa tersebut menghadapi tantangan baru dalam membangun infrastruktur, memperluas layanan pendidikan dan kesehatan, serta menarik investasi industri. Kawasan industri besar mulai berkembang di Karawang dan menjadikan daerah ini sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Meskipun sektor industri berkembang pesat, Karawang tetap mempertahankan identitasnya sebagai daerah lumbung padi nasional. Pemerintah daerah terus berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan industri dan pelestarian lahan pertanian. Para bupati dari masa ke masa memiliki kontribusi besar dalam pembangunan jalan, irigasi, pelayanan publik, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Kepemimpinan para bupati Karawang menjadi bagian penting dari sejarah panjang daerah ini. Setiap pemimpin membawa kebijakan dan pengabdian sesuai tantangan zamannya masing-masing. Dari masa kerajaan, kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga era modern, Kabupaten Karawang terus berkembang menjadi daerah strategis yang maju di Provinsi Jawa Barat.
Sejarah panjang para Bupati Karawang bukan hanya catatan pergantian pemimpin, tetapi juga cermin perjalanan masyarakat Karawang dalam membangun daerah, mempertahankan budaya, dan mewujudkan kemajuan bagi generasi masa depan.
“Karawang Maju, Karawang Mandiri, Karawang Bermartabat.”
Laporan: Redaksi GEMPAR.co










