PROFIL TOKOH – Nama Dedi Mulyadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu figur paling menonjol dalam politik Jawa Barat. Gaya kepemimpinannya yang dekat dengan rakyat, kuat pada akar budaya Sunda, serta aktif membangun komunikasi di ruang publik menjadikannya sosok yang diperhitungkan, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional.
Di balik popularitas dan berbagai kebijakan yang kerap menyita perhatian publik, perjalanan hidup Dedi Mulyadi berangkat dari latar belakang sederhana.
Lahir di Subang pada 11 April 1971, Dedi merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana, berlatar belakang militer, sementara ibunya, Kasiti, dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Masa kecilnya tidak dilalui dalam kemewahan. Dalam berbagai kesempatan, Dedi mengaku pernah mengalami kesulitan ekonomi. Untuk melanjutkan pendidikan, ia harus bekerja sambil kuliah, termasuk berdagang kecil-kecilan demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan.
Perjalanan intelektualnya dimulai saat menempuh studi hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Purnawarman, Purwakarta. Di lingkungan kampus, karakter aktivisme dan kepemimpinannya mulai terbentuk.
Ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang kemudian menjadi ruang pembentukan gagasan, jaringan, serta arah perjuangan politiknya.
Dari dunia aktivisme, Dedi memasuki politik praktis melalui Partai Golkar. Tahun 1999 menjadi titik awal karier politiknya setelah terpilih sebagai anggota DPRD Purwakarta.
Kariernya berkembang pesat. Pada usia relatif muda, ia dipercaya menjadi Wakil Bupati Purwakarta periode 2003–2008. Setelah itu, ia menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode, yakni 2008–2018.
Selama memimpin Purwakarta, Dedi membangun citra politik yang berbeda dari kebanyakan kepala daerah. Ia menonjolkan identitas budaya Sunda dalam tata kota, pendidikan, hingga simbol-simbol ruang publik.
Patung tokoh wayang, salam “Sampurasun”, pembangunan taman budaya, serta pendekatan pembangunan berbasis kearifan lokal menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Bagi sebagian masyarakat, pendekatan tersebut dinilai berhasil mengangkat kembali identitas budaya lokal yang selama ini terpinggirkan dalam arus pembangunan modern. Namun di sisi lain, kebijakan bernuansa budaya itu juga sempat memunculkan kontroversi, terutama dari kelompok yang menganggap simbol-simbol tradisional bertentangan dengan pandangan keagamaan tertentu.
Setelah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya di Purwakarta, Dedi melangkah ke tingkat nasional sebagai anggota DPR RI pada 2019.
Di parlemen, ia tetap dikenal vokal dalam menyuarakan isu sosial, budaya, dan pembangunan daerah.
Perjalanan politiknya memasuki babak baru pada 2023 ketika ia memutuskan keluar dari Golkar dan bergabung dengan Partai Gerindra. Langkah tersebut menjadi jalan menuju kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024.
Dalam Pilgub Jawa Barat 2024, Dedi Mulyadi berhasil memenangkan kontestasi dengan perolehan lebih dari 14 juta suara atau sekitar 62 persen suara sah. Hasil itu menjadikannya salah satu gubernur dengan legitimasi elektoral terkuat di Indonesia.
Ia resmi menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat sejak Februari 2025.
Yang membuat Dedi berbeda dari banyak politisi lain adalah caranya membangun hubungan dengan masyarakat. Ia aktif turun langsung ke lapangan, memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi publik, serta membangun narasi politik yang personal dan emosional.
Bagi para pendukungnya, Dedi dipandang sebagai figur pemimpin rakyat yang berani mengambil keputusan cepat. Namun bagi para pengkritiknya, sejumlah kebijakannya dianggap terlalu populis dan kerap memicu kontroversi.
Meski demikian, satu hal yang sulit dibantah adalah keberhasilannya membangun identitas politik yang kuat.
Secara ideologis, Dedi dikenal sebagai tokoh yang memadukan nasionalisme, tradisi Sunda, dan spiritualitas lokal. Ia kerap menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan manusia dengan sejarah, budaya, dan alam.
Filosofi tersebut membentuk citra politiknya sebagai “politisi kebudayaan”.
Di tengah politik modern yang semakin pragmatis, Dedi Mulyadi hadir dengan corak berbeda: menjadikan identitas lokal sebagai narasi besar dalam politik.
Perjalanan hidupnya – dari anak desa di Subang, aktivis mahasiswa, politisi lokal, kepala daerah, legislator nasional, hingga kini menjadi Gubernur Jawa Barat – menunjukkan bahwa politik bukan semata tentang kekuasaan, tetapi juga tentang membangun akar identitas dan pengaruh sosial.
Bagi banyak orang, Dedi Mulyadi hari ini bukan sekadar pejabat publik. Ia telah menjelma menjadi fenomena politik dan budaya di Jawa Barat.
Laporan: Tim Redaksi
Editor: Redaksi GEMPAR.co










