JAKARTA | GEMPAR.co – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan program wajib pilah sampah rumah tangga mulai Minggu, 10 Mei 2026. Kebijakan ini menjadi langkah konkret Gubernur Pramono Anung dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di ibu kota yang selama ini menghadapi persoalan serius.
Program tersebut mewajibkan masyarakat memilah sampah rumah tangga ke dalam empat kategori sebelum dibuang. Kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap dan masif hingga tingkat lingkungan terkecil dengan melibatkan partisipasi aktif warga.
Pramono menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari gerakan besar perubahan pola pengelolaan sampah di Jakarta, terutama karena hampir separuh volume sampah yang dihasilkan setiap hari didominasi sampah organik.
“Jakarta memulai program pemilahan sampah secara resmi pada 10 Mei. Ini menjadi gerakan besar karena hampir 50 persen sampah kita merupakan sampah organik,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, persoalan sampah tidak lagi bisa hanya dibebankan kepada fasilitas pengolahan akhir seperti TPST Bantargebang. Pemerintah kini membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri di tingkat lingkungan.
Sebagai contoh, Pramono menyebut kawasan Kramat Jati yang kini diberikan keleluasaan untuk mengelola sampah secara mandiri, termasuk penyediaan sarana transportasi dan alat pengolahan sampah.
“Sebelumnya tidak diizinkan, sekarang kami beri ruang agar pengelolaan sampah bisa dilakukan langsung oleh masyarakat. Mudah-mudahan langkah ini dapat mempercepat penanganan sampah di Jakarta,” katanya.
Pramono juga mengakui adanya dampak dari longsor sampah di TPST Bantargebang yang sempat mengganggu sistem pengelolaan sampah Jakarta. Namun, ia memastikan kondisi tersebut mulai tertangani secara bertahap di sejumlah wilayah.
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga telah menyiapkan skema insentif bagi tingkat RW yang dinilai disiplin dan konsisten menjalankan program pemilahan sampah sebagai bentuk dorongan partisipasi warga.
Kebijakan ini diharapkan menjadi titik awal perubahan budaya masyarakat dalam mengelola sampah, sekaligus mengurangi beban penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.
Laporan: Slamet Riyadi | Editor: Redaksi GEMPAR.co











