Putusan Sela Bukan Putusan Bebas: Menafsirkan Perkara dr. Tifauzia Tyassuma dalam Perspektif KUHAP

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mulyadi, Pemimpin Redaksi


PUTUSAN sela yang dijatuhkan majelis hakim dalam perkara dr. Tifauzia Tyassuma menjadi perhatian publik. Tidak sedikit masyarakat yang menafsirkan putusan tersebut sebagai putusan bebas atau bahkan menganggap perkara telah selesai. Padahal, secara hukum, putusan sela memiliki makna dan konsekuensi yang berbeda dengan putusan akhir.

Dalam sistem peradilan pidana Indonesia, putusan sela merupakan bagian dari mekanisme pengawasan terhadap proses penuntutan. Putusan ini lahir bukan untuk menentukan apakah terdakwa bersalah atau tidak, melainkan untuk menguji apakah proses penuntutan telah memenuhi ketentuan hukum acara sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Pasal 156 KUHAP memberikan hak kepada terdakwa atau penasihat hukumnya untuk mengajukan eksepsi terhadap surat dakwaan jaksa penuntut umum. Melalui eksepsi tersebut, majelis hakim menilai apakah dakwaan telah memenuhi syarat hukum, apakah pengadilan berwenang mengadili perkara, atau apakah terdapat alasan lain yang menyebabkan pemeriksaan perkara tidak dapat dilanjutkan.

Dengan demikian, objek pemeriksaan dalam putusan sela bukanlah perbuatan pidana yang didakwakan, melainkan legalitas proses penuntutan. Hakim belum memeriksa alat bukti, belum mendengar seluruh saksi maupun ahli, serta belum menilai terpenuhi atau tidaknya unsur-unsur tindak pidana. Oleh karena itu, putusan sela tidak dapat ditafsirkan sebagai putusan yang membebaskan terdakwa.

Pandangan tersebut sejalan dengan ketentuan Pasal 143 ayat (2) KUHAP yang mewajibkan surat dakwaan disusun secara cermat, jelas, dan lengkap. Dakwaan menjadi dasar pemeriksaan di persidangan. Apabila dakwaan mengandung cacat formil atau materiil yang mendasar, hakim memiliki kewenangan untuk menyatakan dakwaan tidak dapat diterima atau batal sesuai ketentuan hukum acara.

Dari perspektif teori hukum, mekanisme putusan sela merupakan implementasi asas due process of law. Asas ini menegaskan bahwa setiap tindakan negara terhadap warga negara harus dilakukan melalui prosedur yang sah dan adil. Negara memang memiliki kewenangan untuk menuntut seseorang yang diduga melakukan tindak pidana, tetapi kewenangan tersebut dibatasi oleh hukum agar tidak melanggar hak-hak individu.

Tafsir sistematis terhadap KUHAP menunjukkan bahwa pembentuk undang-undang sengaja menempatkan mekanisme eksepsi sebagai instrumen kontrol terhadap kewenangan penuntut umum. Hakim bukan hanya berfungsi sebagai pihak yang mengadili pokok perkara, tetapi juga sebagai pengawas agar seluruh proses penegakan hukum berjalan sesuai prinsip keadilan.

Dalam perkara dr. Tifauzia Tyassuma, apabila majelis hakim mengabulkan eksepsi melalui putusan sela, hal itu tidak berarti hakim telah menyatakan terdakwa tidak bersalah. Hakim hanya menyatakan terdapat persoalan hukum acara yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum memasuki pemeriksaan substansi perkara.

Di sisi lain, putusan sela juga tidak selalu mengakhiri proses hukum. Bergantung pada amar putusan dan ketentuan KUHAP, penuntut umum masih memiliki ruang hukum untuk mengambil langkah yang diperbolehkan, termasuk memperbaiki surat dakwaan apabila hal tersebut dimungkinkan atau menempuh upaya hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Dari sudut pandang negara hukum, putusan sela justru menunjukkan bahwa pengadilan menjalankan fungsi kontrol terhadap proses penegakan hukum. Hakim memastikan bahwa proses pidana tidak berjalan di atas dakwaan yang cacat atau prosedur yang bertentangan dengan hukum. Mekanisme tersebut merupakan bentuk perlindungan terhadap hak terdakwa sekaligus menjaga kredibilitas sistem peradilan.

Perkara dr. Tifauzia Tyassuma menjadi pengingat bahwa penegakan hukum tidak hanya berorientasi pada penghukuman. Keadilan juga ditentukan oleh kualitas proses. Sebuah putusan pidana akan memiliki legitimasi apabila lahir melalui prosedur yang benar, dakwaan yang sah, pembuktian yang objektif, serta pertimbangan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memaknai putusan sela secara proporsional. Putusan tersebut bukan putusan bebas, bukan pula akhir dari seluruh proses peradilan pidana. Putusan sela merupakan instrumen hukum yang menjamin bahwa setiap perkara diperiksa berdasarkan prosedur yang benar sebelum hakim menilai substansi perkara.

Negara hukum tidak hanya menuntut tegaknya keadilan substantif, tetapi juga keadilan prosedural. Tanpa prosedur yang benar, putusan apa pun akan kehilangan legitimasi. Karena itu, putusan sela harus dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kewenangan negara dalam menegakkan hukum dan perlindungan hak setiap warga negara di hadapan hukum.▪︎

Follow WhatsApp Channel gempar.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPR Setujui RAPBN 2027, Belanja Negara Tembus Rp4.106 Triliun
Lapas Cibinong Masuk Babak Baru, Ombudsman Siap Buka Temuan di DPR
Klaster Mewah Lapas Cibinong Berujung Pencopotan Kalapas dan Empat Pejabat
DBHP Purwakarta 2025 Dipertanyakan: Selisih Rp46,87 Miliar, Jejak Tunggakan Rp19,74 Miliar
Klaster Mewah Lapas Cibinong Berubah Setelah Disidak Ombudsman, Menteri Imipas Janji Investigasi 7 Hari
Ombudsman Bongkar Temuan di Lapas Cibinong: Ada 10 Bangunan Mirip Hunian, Akses Tak Terkunci hingga Dugaan Pungutan
Uang Dikembalikan, Perkara Selesai? Dugaan Penyimpangan BOS Rp879 Juta di Karawang Tetap Perlu Diusut
KPK Dalami Sejumlah Proyek Pemkab Bekasi yang Diduga Terkait Ipda Yayat

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 04:58 WIB

DPR Setujui RAPBN 2027, Belanja Negara Tembus Rp4.106 Triliun

Senin, 28 September 2026 - 15:12 WIB

Lapas Cibinong Masuk Babak Baru, Ombudsman Siap Buka Temuan di DPR

Senin, 28 September 2026 - 07:25 WIB

Klaster Mewah Lapas Cibinong Berujung Pencopotan Kalapas dan Empat Pejabat

Jumat, 25 September 2026 - 20:55 WIB

DBHP Purwakarta 2025 Dipertanyakan: Selisih Rp46,87 Miliar, Jejak Tunggakan Rp19,74 Miliar

Jumat, 25 September 2026 - 19:20 WIB

Klaster Mewah Lapas Cibinong Berubah Setelah Disidak Ombudsman, Menteri Imipas Janji Investigasi 7 Hari

Berita Terbaru

Mahfud MD dorong penelusuran dokumen dan peran KPU dalam polemik ijazah Gibran.

Laporan Khusus

Polemik Ijazah Gibran: Mahfud Dorong Penelusuran Dokumen dan Peran KPU

Minggu, 11 Okt 2026 - 05:26 WIB

Perselisihan Kepala DLH Bekasi dengan wartawan berujung laporan polisi dan memicu sorotan insan pers.

Laporan Khusus

Perselisihan Kepala DLH Bekasi dengan Wartawan Berujung Laporan Polisi

Sabtu, 10 Okt 2026 - 22:22 WIB