MEDAN | GEMPAR.CO — Pemanfaatan bahan alami untuk mengendalikan jentik nyamuk Aedes aegypti terus dikembangkan melalui penelitian kesehatan masyarakat. Salah satu inovasi yang tengah dikaji adalah penggunaan ekstrak biji jarak dan cabai merah sebagai larvasida alami untuk membantu menekan populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Inovasi tersebut melibatkan Miftahussakdan, mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU), yang turut membantu penelitian dosennya, Ir. Indra Cahaya S., M.Si., dan Winni R. E. Tumanggor, SKM., MPH.
Penelitian awal berfokus pada pemanfaatan ekstrak biji jarak. Namun, karena tanaman jarak semakin sulit ditemukan, cabai merah kemudian dikembangkan sebagai alternatif yang lebih mudah diperoleh masyarakat.
“Awalnya fokus riset dosen aku itu pakai ekstrak biji jarak karena pada saat itu biji jarak banyak di Medan. Tapi karena pohon jarak sekarang makin susah dicari, kami kembangkanlah opsi cabai merah ini supaya masyarakat bisa lebih gampang mempraktikkannya sendiri di rumah,” ujar Sakdan.
Diuji Melalui Pengabdian kepada Masyarakat
Pengujian cabai merah sebagai larvasida dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang berpartisipasi dalam pemantauan selama dua minggu.
Dalam kegiatan itu, peneliti menggunakan ovitrap atau perangkap telur nyamuk yang dibuat dari wadah bekas. Bagian luar wadah dilapisi lakban hitam untuk menarik nyamuk agar bertelur.
Wadah tersebut selanjutnya digunakan dalam pengujian larvasida berbahan cabai merah sesuai dengan metode penelitian yang diterapkan.
Menurut Sakdan, pemantauan berkala selama dua minggu menunjukkan adanya perubahan pada keberadaan jentik di wadah perangkap yang digunakan.
“Melalui pemantauan berkala selama dua minggu, kami melihat adanya perubahan pada keberadaan jentik di wadah perangkap yang digunakan,” ungkapnya.
Meski demikian, efektivitas larvasida berbahan alami tersebut masih perlu diperhatikan, terutama terkait daya tahan bahan selama penyimpanan dan penggunaannya. Pemantauan serta penggantian wadah juga harus disesuaikan dengan hasil pengujian dan metode penelitian.
Berpotensi Menjadi Alternatif Pengendalian Jentik
Pengembangan larvasida dari biji jarak dan cabai merah menunjukkan adanya potensi pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar untuk mendukung pengendalian jentik nyamuk.
Namun, pemanfaatan bahan alami tidak serta-merta menjamin efektivitas dan keamanannya. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui konsentrasi yang tepat, tingkat efektivitas terhadap larva Aedes aegypti, serta dampaknya terhadap organisme lain dan lingkungan.
Hasil penelitian juga perlu menjadi dasar untuk menentukan cara penggunaan yang aman sebelum metode tersebut direkomendasikan secara luas kepada masyarakat.
Inovasi ini diharapkan dapat memperluas kajian mengenai alternatif pengendalian jentik yang ramah lingkungan dan mudah dijangkau masyarakat.
Upaya tersebut dapat menjadi bagian dari pencegahan DBD, yang tetap perlu disertai pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan menguras, menutup, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Laporan: Redaksi








