Mahasiswa USU Kembangkan Larvasida Alami dari Cabai Merah untuk Kendalikan Jentik Nyamuk

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan kajian pemanfaatan cabai merah dan biji jarak sebagai alternatif larvasida alami untuk pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti. Efektivitas dan keamanannya masih memerlukan pengujian lebih lanjut.

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan kajian pemanfaatan cabai merah dan biji jarak sebagai alternatif larvasida alami untuk pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti. Efektivitas dan keamanannya masih memerlukan pengujian lebih lanjut.

MEDAN | GEMPAR.CO  — Pemanfaatan bahan alami untuk mengendalikan jentik nyamuk Aedes aegypti terus dikembangkan melalui penelitian kesehatan masyarakat. Salah satu inovasi yang tengah dikaji adalah penggunaan ekstrak biji jarak dan cabai merah sebagai larvasida alami untuk membantu menekan populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Inovasi tersebut melibatkan Miftahussakdan, mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU), yang turut membantu penelitian dosennya, Ir. Indra Cahaya S., M.Si., dan Winni R. E. Tumanggor, SKM., MPH.

Penelitian awal berfokus pada pemanfaatan ekstrak biji jarak. Namun, karena tanaman jarak semakin sulit ditemukan, cabai merah kemudian dikembangkan sebagai alternatif yang lebih mudah diperoleh masyarakat.

“Awalnya fokus riset dosen aku itu pakai ekstrak biji jarak karena pada saat itu biji jarak banyak di Medan. Tapi karena pohon jarak sekarang makin susah dicari, kami kembangkanlah opsi cabai merah ini supaya masyarakat bisa lebih gampang mempraktikkannya sendiri di rumah,” ujar Sakdan.

Diuji Melalui Pengabdian kepada Masyarakat

Pengujian cabai merah sebagai larvasida dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang berpartisipasi dalam pemantauan selama dua minggu.

Dalam kegiatan itu, peneliti menggunakan ovitrap atau perangkap telur nyamuk yang dibuat dari wadah bekas. Bagian luar wadah dilapisi lakban hitam untuk menarik nyamuk agar bertelur.

Wadah tersebut selanjutnya digunakan dalam pengujian larvasida berbahan cabai merah sesuai dengan metode penelitian yang diterapkan.

Menurut Sakdan, pemantauan berkala selama dua minggu menunjukkan adanya perubahan pada keberadaan jentik di wadah perangkap yang digunakan.

“Melalui pemantauan berkala selama dua minggu, kami melihat adanya perubahan pada keberadaan jentik di wadah perangkap yang digunakan,” ungkapnya.

Meski demikian, efektivitas larvasida berbahan alami tersebut masih perlu diperhatikan, terutama terkait daya tahan bahan selama penyimpanan dan penggunaannya. Pemantauan serta penggantian wadah juga harus disesuaikan dengan hasil pengujian dan metode penelitian.

Berpotensi Menjadi Alternatif Pengendalian Jentik

Pengembangan larvasida dari biji jarak dan cabai merah menunjukkan adanya potensi pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar untuk mendukung pengendalian jentik nyamuk.

Namun, pemanfaatan bahan alami tidak serta-merta menjamin efektivitas dan keamanannya. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui konsentrasi yang tepat, tingkat efektivitas terhadap larva Aedes aegypti, serta dampaknya terhadap organisme lain dan lingkungan.

Hasil penelitian juga perlu menjadi dasar untuk menentukan cara penggunaan yang aman sebelum metode tersebut direkomendasikan secara luas kepada masyarakat.

Inovasi ini diharapkan dapat memperluas kajian mengenai alternatif pengendalian jentik yang ramah lingkungan dan mudah dijangkau masyarakat.

Upaya tersebut dapat menjadi bagian dari pencegahan DBD, yang tetap perlu disertai pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan menguras, menutup, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Laporan: Redaksi

Follow WhatsApp Channel gempar.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Sebut MBG di Karawang Nihil Keracunan, Sejumlah Persoalan Pelaksanaan Jadi Sorotan
DPR Setujui RAPBN 2027, Belanja Negara Tembus Rp4.106 Triliun
Lapas Cibinong Masuk Babak Baru, Ombudsman Siap Buka Temuan di DPR
Klaster Mewah Lapas Cibinong Berujung Pencopotan Kalapas dan Empat Pejabat
DBHP Purwakarta 2025 Dipertanyakan: Selisih Rp46,87 Miliar, Jejak Tunggakan Rp19,74 Miliar
Klaster Mewah Lapas Cibinong Berubah Setelah Disidak Ombudsman, Menteri Imipas Janji Investigasi 7 Hari
Ombudsman Bongkar Temuan di Lapas Cibinong: Ada 10 Bangunan Mirip Hunian, Akses Tak Terkunci hingga Dugaan Pungutan
Uang Dikembalikan, Perkara Selesai? Dugaan Penyimpangan BOS Rp879 Juta di Karawang Tetap Perlu Diusut

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Bupati Sebut MBG di Karawang Nihil Keracunan, Sejumlah Persoalan Pelaksanaan Jadi Sorotan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Mahasiswa USU Kembangkan Larvasida Alami dari Cabai Merah untuk Kendalikan Jentik Nyamuk

Rabu, 30 September 2026 - 04:58 WIB

DPR Setujui RAPBN 2027, Belanja Negara Tembus Rp4.106 Triliun

Senin, 28 September 2026 - 15:12 WIB

Lapas Cibinong Masuk Babak Baru, Ombudsman Siap Buka Temuan di DPR

Senin, 28 September 2026 - 07:25 WIB

Klaster Mewah Lapas Cibinong Berujung Pencopotan Kalapas dan Empat Pejabat

Berita Terbaru