Budaya Sunda Bergema di Karawang, Kirab Mahkota Binokasih Hidupkan Jejak Sejarah Pajajaran

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 10 Mei 2026 - 07:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kirab Mahkota Binokasih di Karawang menghidupkan kembali jejak sejarah Pajajaran sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda. Prosesi budaya ini disambut antusias ribuan warga.

Kirab Mahkota Binokasih di Karawang menghidupkan kembali jejak sejarah Pajajaran sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda. Prosesi budaya ini disambut antusias ribuan warga.

KARAWANG | GEMPAR.co – Semangat pelestarian budaya Sunda kembali bergema di Kabupaten Karawang melalui prosesi Kirab Mahkota Binokasih, Sabtu (9/5/2026). Ribuan warga memadati kawasan Alun-alun Karawang untuk menyaksikan langsung arak-arakan pusaka bersejarah yang menjadi simbol kebesaran peradaban Sunda.

Sejak sore hingga malam hari, masyarakat dari berbagai penjuru Karawang tampak antusias memenuhi jalur kirab. Tidak sedikit warga yang datang bersama keluarga untuk menyaksikan prosesi budaya yang jarang digelar dan memiliki nilai historis tinggi tersebut.

Sorotan utama tertuju pada iring-iringan kirab saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bersama Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, tampil menunggang kuda mengawal jalannya prosesi. Kehadiran keduanya mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang memenuhi sepanjang jalur kirab.

Prosesi kirab semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni tradisional khas Sunda seperti sisingaan, pencak silat, rampak kendang, hingga atraksi budaya lainnya yang menambah kemeriahan suasana.

Puluhan anak-anak terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan. Sebagian tampak berebut menaiki sisingaan, sementara masyarakat lainnya mengabadikan momen kirab dengan telepon genggam mereka.

Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, mengatakan kegiatan budaya seperti Kirab Mahkota Binokasih memiliki arti penting dalam upaya menjaga dan memperkenalkan warisan budaya daerah kepada generasi muda.
Menurutnya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan.

“Generasi muda harus mengenal sejarah dan budayanya sendiri agar memiliki rasa bangga terhadap identitas daerahnya,” ujarnya.

Kirab Mahkota Binokasih sendiri bukan sekadar arak-arakan budaya biasa. Mahkota Binokasih atau Binokasih Sanghyang Pake merupakan salah satu pusaka penting dalam sejarah Tatar Sunda yang memiliki nilai simbolik tinggi.

Dalam catatan sejarah, Mahkota Binokasih diyakini dibuat pada abad ke-14 pada masa pemerintahan Raja Sanghyang Bunisora Suradipati, salah satu penguasa Kerajaan Galuh yang menjadi bagian dari perjalanan besar Kerajaan Sunda.

Mahkota tersebut menjadi lambang legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda sekaligus simbol kasih sayang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab pemimpin kepada rakyatnya.

Sejarah mencatat, setelah runtuhnya Keruntuhan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1579 akibat serangan Kesultanan Banten, sejumlah pusaka kerajaan diselamatkan agar tidak hilang. Salah satunya adalah Mahkota Binokasih yang kemudian dibawa ke Kerajaan Sumedang Larang.

Penyerahan pusaka itu kepada Sumedang Larang menjadi simbol estafet sejarah dan legitimasi budaya Sunda setelah berakhirnya era Pajajaran.
Hingga kini, Mahkota Binokasih masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun dan menjadi salah satu benda pusaka yang dihormati masyarakat Sunda.

Kirab budaya ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali memori sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam membangun karakter masyarakat Jawa Barat.

Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga akar budaya dan nilai-nilai leluhur.

Kirab Mahkota Binokasih di Karawang menjadi bukti bahwa budaya Sunda masih hidup dan terus diwariskan. Bagi masyarakat, prosesi ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengingat bahwa sejarah panjang Pajajaran dan peradaban Sunda tetap menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat Jawa Barat.

Melalui kirab ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: budaya harus tetap hidup, sejarah harus tetap dikenang, dan warisan leluhur harus tetap dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.


Laporan: Abdul Haris | Editor: Redaksi GEMPAR.co

Follow WhatsApp Channel gempar.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Jejak Peradaban Kuno di Utara Karawang, Menelusuri Sejarah Candi Jiwa Batujaya
Jelajahi Pesona Karawang, Dari Pantai Indah hingga Wisata Sejarah Batujaya
Mahkota Binokasih dan Pesan Kepemimpinan Humanis untuk Karawang
Berita ini 25 kali dibaca

Baca Juga

Jumat, 29 Mei 2026 - 08:45 WIB

Jejak Peradaban Kuno di Utara Karawang, Menelusuri Sejarah Candi Jiwa Batujaya

Senin, 11 Mei 2026 - 11:46 WIB

Jelajahi Pesona Karawang, Dari Pantai Indah hingga Wisata Sejarah Batujaya

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:08 WIB

Mahkota Binokasih dan Pesan Kepemimpinan Humanis untuk Karawang

Minggu, 10 Mei 2026 - 07:54 WIB

Budaya Sunda Bergema di Karawang, Kirab Mahkota Binokasih Hidupkan Jejak Sejarah Pajajaran

Update Terbaru