DI BALIK kemegahan Kirab Mahkota Binokasih yang kini kembali menggema di berbagai daerah di Jawa Barat, tersimpan jejak sejarah panjang tentang runtuh dan bangkitnya peradaban Sunda. Mahkota itu bukan sekadar benda pusaka, tetapi simbol legitimasi kekuasaan, filosofi kepemimpinan, dan kesinambungan sejarah Tatar Sunda.
Nama lengkap pusaka itu adalah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, sebuah mahkota kerajaan yang diyakini berasal dari masa kejayaan Kerajaan Galuh pada abad ke-14.
Dalam catatan sejarah Sunda, mahkota tersebut dibuat atas prakarsa Raja Galuh, Sanghyang Bunisora Suradipati, yang memerintah sekitar tahun 1357–1371 Masehi. Ia dikenal sebagai penguasa yang berhasil menstabilkan kekuasaan Sunda-Galuh pasca Perang Bubat dan memperkuat legitimasi kerajaan melalui simbol-simbol kebesaran, salah satunya Mahkota Binokasih.
Secara etimologis, kata “Binokasih” berasal dari bahasa Sunda kuno yang bermakna dilandasi kasih sayang, sementara “Sanghyang Pake” dapat dimaknai sebagai pusaka suci yang dipakai dalam urusan kenegaraan dan legitimasi kepemimpinan.
Filosofi itu menunjukkan bahwa dalam tradisi kepemimpinan Sunda, kekuasaan tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan, tetapi harus dibangun di atas kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab moral terhadap rakyat.
Seiring perjalanan sejarah, Mahkota Binokasih menjadi pusaka utama Kerajaan Sunda ketika pusat pemerintahan berada di Pakuan Pajajaran. Mahkota ini digunakan dalam prosesi penobatan raja-raja Sunda dan menjadi simbol tertinggi kedaulatan kerajaan.
Namun perjalanan mahkota itu berubah drastis ketika Kerajaan Sunda Pajajaran menghadapi tekanan besar dari ekspansi Kesultanan Banten pada akhir abad ke-16.
Tahun 1579 menjadi titik balik sejarah. Serangan Kesultanan Banten ke Pakuan Pajajaran menyebabkan runtuhnya pusat kekuasaan Sunda. Dalam situasi genting itu, sejumlah pembesar kerajaan menyelamatkan pusaka-pusaka penting agar warisan kerajaan tidak musnah. Runtuhnya Kerajaan Pajajaran.
Mahkota Binokasih kemudian dibawa oleh empat utusan kerajaan menuju Sumedang Larang untuk diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun.
Penyerahan itu bukan sekadar penitipan pusaka, melainkan simbol estafet sejarah: bahwa Sumedang Larang dipercaya menjadi penerus legitimasi kebesaran Pajajaran.
Sejak saat itu, Mahkota Binokasih menjadi bagian penting dari identitas Kerajaan Sumedang Larang dan disimpan sebagai pusaka utama kerajaan.
Secara fisik, Mahkota Binokasih disebut terbuat dari emas murni 18 karat dengan berat sekitar delapan kilogram. Bentuknya menyerupai siger atau mahkota tradisional Sunda dengan ornamen khas yang melambangkan kebesaran dan kemuliaan pemimpin.
Namun yang paling penting bukanlah nilai materialnya, melainkan nilai filosofis yang dikandungnya.
Dalam budaya Sunda, Mahkota Binokasih melambangkan tiga prinsip utama kehidupan yang dikenal dalam konsep Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh – saling menguatkan pengetahuan, saling mengasihi, dan saling membimbing.
Nilai inilah yang menjadi fondasi masyarakat Sunda dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Kini, Mahkota Binokasih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun sebagai salah satu benda pusaka paling penting dalam sejarah Sunda.
Keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa sejarah Sunda tidak benar-benar hilang setelah runtuhnya Pajajaran, melainkan berlanjut melalui Sumedang Larang dan diwariskan hingga hari ini.
Kirab Mahkota Binokasih yang kembali digelar pada 2026 bukan sekadar agenda budaya atau atraksi seremonial.
Ia adalah upaya membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat Sunda terhadap akar sejarahnya.
Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, Mahkota Binokasih hadir sebagai pengingat bahwa identitas budaya adalah fondasi peradaban.
Sebab sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang siapa kita hari ini dan ke mana arah perjalanan budaya itu akan dibawa di masa depan.
Bagi masyarakat Sunda, Mahkota Binokasih bukan hanya warisan leluhur.
Ia adalah simbol kehormatan, kasih sayang, kepemimpinan, dan keberlanjutan sejarah yang tak boleh putus oleh zaman.
Editor: Redaksi GEMPAR.co












