KARAWANG | GEMPAR.CO – Temuan belum berfungsinya secara penuh Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mulyajaya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, memunculkan pertanyaan mengenai proses verifikasi kelayakan operasional yang dilakukan sebelum dapur tersebut dinyatakan layak beroperasi.
Diketahui, SPPG Mulyajaya telah melayani sebanyak 2.151 penerima manfaat sejak mulai beroperasi pada 13 April 2026. Namun, berdasarkan hasil peninjauan Tim Investigasi GEMPAR.CO, fasilitas IPAL di dapur tersebut belum terpasang secara lengkap.
Kepala SPPG Mulyajaya, Laurensius Abi, sebelumnya mengakui bahwa IPAL memang belum tersedia secara utuh dan saat ini baru terdapat dua chamber atau bak penampungan yang menjadi bagian dari sistem pengolahan limbah yang masih dalam proses pengadaan.
“IPAL memang belum terpasang. Saat ini baru dua chamber yang sudah dipasang. Saya sudah menyampaikan kepada mitra agar segera memasangnya,” kata Laurensius kepada GEMPAR.CO.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena Badan Gizi Nasional (BGN) dalam berbagai pedoman pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis menekankan pentingnya pemenuhan standar higiene, sanitasi, serta pengelolaan limbah pada setiap dapur SPPG.
Pemerhati kebijakan publik Karawang, Jiji Makriji, menilai persoalan yang perlu dijelaskan kepada masyarakat bukan semata-mata terkait keberadaan IPAL, melainkan bagaimana proses verifikasi kelayakan dapur dilakukan sebelum SPPG mulai beroperasi.
“Yang menjadi pertanyaan publik adalah apakah seluruh tahapan verifikasi telah dilaksanakan sesuai ketentuan. Jika memang dalam standar BGN terdapat persyaratan terkait pengelolaan limbah dan sanitasi lingkungan, maka semestinya pemenuhan persyaratan tersebut dipastikan terlebih dahulu sebelum dapur dinyatakan layak beroperasi,” ujar Jiji kepada GEMPAR.CO, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Jiji, transparansi dalam proses verifikasi penting dilakukan mengingat Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis nasional yang menyasar kelompok rentan, khususnya anak-anak usia sekolah.
“Program ini sangat baik dan harus didukung bersama. Namun, dukungan itu juga harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat agar kualitas layanan benar-benar sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah,” katanya.
Ia menambahkan, keterbukaan informasi mengenai hasil verifikasi dapat menjadi bentuk akuntabilitas penyelenggara program kepada masyarakat.
“Jangan sampai muncul persepsi bahwa ada standar yang tidak diterapkan secara konsisten. Karena itu, BGN perlu menjelaskan kepada publik bagaimana mekanisme verifikasi dilakukan dan apakah terdapat toleransi tertentu terhadap pemenuhan persyaratan teknis sebelum SPPG beroperasi,” ucapnya.
Selain persoalan IPAL, Tim Investigasi GEMPAR.CO juga menemukan banyak lalat berterbangan di dalam area dapur saat melakukan wawancara dengan Kepala SPPG. Keberadaan lalat kerap dikaitkan sebagai salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam aspek kebersihan dan sanitasi lingkungan pengolahan makanan.
Dalam kesempatan sebelumnya, Laurensius juga mengakui bahwa pihaknya pernah menerima teguran dari Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Kutawaluya pada masa awal operasional. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci substansi teguran maupun langkah tindak lanjut yang telah dilakukan.
Temuan-temuan tersebut memperkuat pentingnya penjelasan dari pihak terkait mengenai proses verifikasi dan pengawasan terhadap dapur MBG yang telah beroperasi.
Hingga berita ini diterbitkan, GEMPAR.CO masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari Badan Gizi Nasional terkait mekanisme verifikasi kelayakan SPPG Mulyajaya, termasuk apakah terdapat evaluasi berkala terhadap pemenuhan standar sanitasi dan pengelolaan limbah setelah dapur mulai beroperasi.
Keterangan dari BGN diperlukan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa seluruh dapur MBG yang melayani penerima manfaat telah melalui proses penilaian yang sesuai dengan ketentuan, sehingga aspek keamanan pangan dan kesehatan lingkungan tetap terjaga dalam pelaksanaan program tersebut.
Laporan: Tim Investigasi GEMPAR.CO












