JAKARTA | GEMPAR.CO – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mengubah skema pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat tahun 2026. Salah satu perubahan utama yakni pelaksanaan ujian mata pelajaran wajib yang kini dilakukan satu hari untuk satu mata pelajaran.
Kebijakan tersebut disampaikan Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, sebagai hasil evaluasi pelaksanaan TKA tahun sebelumnya. Menurutnya, banyak peserta mengeluhkan beban ujian yang terlalu padat karena harus mengerjakan tiga mata pelajaran wajib dalam satu hari.
“Tahun ini untuk mata pelajaran wajib tidak lagi diujikan dalam satu hari sekaligus, tetapi dibagi satu hari satu mata pelajaran agar peserta lebih fokus dan tidak terlalu terbebani,” ujar Rahmawati dalam Taklimat Media Hasil TKA jenjang SMP/MTs dan SD/MI di Gedung E Kompleks Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat.
Pada pelaksanaan TKA 2025, peserta mengerjakan Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris dalam satu hari, sedangkan mata pelajaran pilihan dilaksanakan pada hari berikutnya. Namun mulai 2026, pelaksanaan TKA SMA/SMK akan berlangsung selama empat hari.
Selain perubahan jadwal, Kemendikdasmen juga mengintegrasikan pelaksanaan TKA dengan Asesmen Nasional (AN). Mata pelajaran wajib nantinya akan disertai survei karakter, literasi, numerasi, hingga survei lingkungan belajar.
Adapun jadwal pelaksanaan TKA SMA/SMK/sederajat 2026 dibagi dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama dijadwalkan berlangsung pada 26–29 Oktober 2026, gelombang kedua pada 2–5 November 2026, sedangkan gelombang khusus akan digelar pada 31 Oktober–1 November dan 7–8 November 2026.
Dalam pelaksanaannya, hari pertama akan digunakan untuk ujian Bahasa Indonesia dan literasi, hari kedua Bahasa Inggris, hari ketiga Matematika dan numerasi, sementara hari keempat diperuntukkan bagi dua mata pelajaran pilihan.
Kemendikdasmen berharap perubahan skema tersebut dapat meningkatkan kenyamanan peserta serta menghasilkan pengukuran kemampuan akademik yang lebih optimal dan objektif.
Sementara itu, sejumlah kalangan pendidikan menilai perubahan pola ujian menjadi satu hari satu mata pelajaran dapat membantu siswa lebih fokus dalam mempersiapkan diri. Namun demikian, sekolah tetap diminta melakukan penyesuaian teknis dan kesiapan sarana pelaksanaan ujian berbasis komputer.
Laporan: Slamet Riyadi












