JAKARTA | GEMPAR.CO – Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri menyoroti masih tingginya ketimpangan kepemilikan lahan yang dialami petani di Kabupaten Indramayu. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab utama petani sulit meningkatkan taraf hidup dan keluar dari lingkar kemiskinan.
Dalam keterangannya yang dikutip dari Parlementaria di Jakarta, Jumat (15/5/2026), Rokhmin menyebut rata-rata luas lahan garapan petani di Indramayu masih jauh dari standar ideal untuk mencapai kesejahteraan ekonomi.
“Tahu enggak petani Indramayu lahan garapannya berapa rata-rata? Hanya 0,4 hektar. Padahal skala ekonomi kalau petani itu mau sejahtera minimal 2,5 hektar,” ujar Rokhmin.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut menilai persoalan agraria bukan hanya terjadi di Indramayu, melainkan menjadi masalah nasional yang berkaitan dengan ketimpangan penguasaan aset produksi di Indonesia.
Menurut Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu, sebagian besar lahan produktif masih dikuasai kelompok tertentu dalam skala besar, sementara petani kecil hanya memiliki akses terbatas terhadap lahan pertanian.
“Ada 0,2 persen pengusaha besar yang punya lahan sekitar 70 persen dari total lahan di Indonesia,” katanya.
Rokhmin menegaskan reforma agraria harus dijalankan lebih serius agar petani dan nelayan memperoleh akses ekonomi yang lebih adil dan merata. Ia menilai tanpa pembenahan distribusi lahan, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil akan sulit terwujud.
“Pemerintah yang berhasil itu pemerintah yang mampu menyejahterakan rakyat,” tegasnya.
Selain menyoroti persoalan agraria, Rokhmin juga menyinggung kondisi ekonomi di kawasan Pantura Jawa Barat yang dinilai mulai mengalami perlambatan. Menurutnya, menurunnya aktivitas industri dan perdagangan di sejumlah wilayah berdampak terhadap meningkatnya angka pengangguran dan melemahnya daya beli masyarakat.
Karena itu, ia meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada angka pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memastikan manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat kecil, khususnya petani dan nelayan.
Laporan: Slamet Riyadi












