Kejagung Ungkap Dugaan Mark Up Motor Listrik BGN Rp1 Triliun, Dadan Hindayana Pernah Sebut Harga Rp42 Juta per Unit

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejaksaan Agung mengungkap dugaan mark up dalam pengadaan 21.801 unit motor listrik Badan Gizi Nasional (BGN) dengan nilai proyek mencapai lebih dari Rp1 triliun.

Kejaksaan Agung mengungkap dugaan mark up dalam pengadaan 21.801 unit motor listrik Badan Gizi Nasional (BGN) dengan nilai proyek mencapai lebih dari Rp1 triliun.

JAKARTA | GEMPAR.CO – Dugaan korupsi dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi sorotan publik. Salah satu temuan yang kini didalami penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) adalah pengadaan motor listrik senilai lebih dari Rp1 triliun yang diduga mengalami penggelembungan harga (mark up).

Kasus ini mencuat setelah Kejagung menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa BGN tahun anggaran 2025–2026.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Mochammad Jeffry, mengungkapkan bahwa para tersangka diduga melakukan intervensi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

“DH bersama-sama dengan SS dan LP dalam melakukan proses pengadaan barang dan jasa di Badan Gizi Nasional secara melawan hukum melakukan intervensi kepada pejabat pembuat komitmen,” ujar Jeffry dalam keterangan resmi yang dikutip GEMPAR.CO, Minggu (7/6/2026).

Salah satu pengadaan yang menjadi perhatian penyidik adalah pembelian sebanyak 21.801 unit motor listrik dengan nilai kontrak mencapai Rp1.035.515.297.908.

Menurut Kejagung, proyek tersebut dimenangkan oleh PT YAT yang diduga tidak memenuhi persyaratan sebagai penyedia karena tidak memiliki jaringan dealer maupun bengkel aktif yang memadai.

“Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan nilai total pengadaan sebesar Rp1.035.515.297.908,02 dan telah dibayarkan kepada PT YAT yang tidak memenuhi syarat selaku vendor karena tidak memiliki dealer atau bengkel aktif serta terdapat indikasi mark up,” kata Jeffry.

Pernah Disebut Rp42 Juta per Unit

Temuan Kejagung ini kembali mengingatkan publik pada polemik pengadaan motor listrik BGN yang sempat viral pada April 2026.

Saat itu beredar video di media sosial yang memperlihatkan ribuan motor listrik berlogo Badan Gizi Nasional tersimpan di sebuah gudang. Narasi yang beredar menyebut kendaraan tersebut akan didistribusikan untuk menunjang operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menanggapi polemik tersebut, Dadan Hindayana yang saat itu masih menjabat Kepala BGN menjelaskan bahwa motor listrik tersebut diperuntukkan bagi kepala SPPG dan dibeli dengan harga sekitar Rp42 juta per unit.

Pernyataan tersebut sempat memicu perdebatan di ruang publik karena harga yang disebutkan dinilai relatif tinggi dibanding sejumlah produk motor listrik yang beredar di pasaran.

Kini, setelah Kejagung mengungkap adanya dugaan mark up dalam proyek tersebut, pernyataan Dadan kembali menjadi perhatian publik dan menjadi bagian dari rangkaian fakta yang dikaitkan dengan proses penyidikan.

Kerugian Negara Masih Didalami

Hingga saat ini Kejagung masih terus mendalami nilai pasti kerugian negara yang ditimbulkan dari berbagai paket pengadaan di lingkungan BGN. Selain motor listrik, penyidik juga mengusut sejumlah pengadaan lain yang diduga mengalami penggelembungan harga, termasuk pengadaan sepatu dan perlengkapan operasional program MBG.

Penyidikan masih berlangsung dan tidak menutup kemungkinan adanya penambahan tersangka maupun pengembangan perkara terhadap pihak-pihak lain yang diduga terlibat.

Kasus ini menjadi salah satu perkara korupsi terbesar yang menyeret institusi pelaksana Program Makan Bergizi Gratis, program prioritas nasional yang selama ini digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia.


Laporan: Dani Sofyan 

Follow WhatsApp Channel gempar.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPR Setujui RAPBN 2027, Belanja Negara Tembus Rp4.106 Triliun
Lapas Cibinong Masuk Babak Baru, Ombudsman Siap Buka Temuan di DPR
Klaster Mewah Lapas Cibinong Berujung Pencopotan Kalapas dan Empat Pejabat
DBHP Purwakarta 2025 Dipertanyakan: Selisih Rp46,87 Miliar, Jejak Tunggakan Rp19,74 Miliar
Klaster Mewah Lapas Cibinong Berubah Setelah Disidak Ombudsman, Menteri Imipas Janji Investigasi 7 Hari
Ombudsman Bongkar Temuan di Lapas Cibinong: Ada 10 Bangunan Mirip Hunian, Akses Tak Terkunci hingga Dugaan Pungutan
Uang Dikembalikan, Perkara Selesai? Dugaan Penyimpangan BOS Rp879 Juta di Karawang Tetap Perlu Diusut
KPK Dalami Sejumlah Proyek Pemkab Bekasi yang Diduga Terkait Ipda Yayat

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 04:58 WIB

DPR Setujui RAPBN 2027, Belanja Negara Tembus Rp4.106 Triliun

Senin, 28 September 2026 - 15:12 WIB

Lapas Cibinong Masuk Babak Baru, Ombudsman Siap Buka Temuan di DPR

Senin, 28 September 2026 - 07:25 WIB

Klaster Mewah Lapas Cibinong Berujung Pencopotan Kalapas dan Empat Pejabat

Jumat, 25 September 2026 - 20:55 WIB

DBHP Purwakarta 2025 Dipertanyakan: Selisih Rp46,87 Miliar, Jejak Tunggakan Rp19,74 Miliar

Jumat, 25 September 2026 - 19:20 WIB

Klaster Mewah Lapas Cibinong Berubah Setelah Disidak Ombudsman, Menteri Imipas Janji Investigasi 7 Hari

Berita Terbaru

Pemkot Bandung rencanakan sentra wisata kuliner di setiap kecamatan untuk mendorong PKL naik kelas.

Jawa Barat

Pemkot Bandung Siapkan Sentra Wisata Kuliner di Setiap Kecamatan

Sabtu, 10 Okt 2026 - 16:31 WIB