KARAWANG | GEMPAR.CO – Pengadaan buku paket siswa di SMPN 2 Pakisjaya, Kabupaten Karawang, kembali menjadi sorotan setelah muncul pertanyaan terkait jumlah pengadaan dan keberadaan fisik buku hasil pembelian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun Anggaran 2025.
Berdasarkan data penggunaan anggaran yang diperoleh GEMPAR.co, SMPN 2 Pakisjaya menerima total dana BOS sebesar Rp859.140.000 dengan jumlah peserta didik sebanyak 774 siswa.
Dari total anggaran tersebut, sebesar Rp402.619.000 dialokasikan untuk komponen pengembangan perpustakaan yang didominasi pengadaan buku paket Kurikulum Merdeka kelas IX.
Nilai pengadaan itu tercatat mendekati setengah dari total dana BOS sekolah.
Bendahara BOS SMPN 2 Pakisjaya, Yaser Hendrawan, sebelumnya menjelaskan pengadaan buku dilakukan dalam dua tahap.
Menurut Yaser Hendrawan, tahap pertama dilakukan sekitar 150 eksemplar dan tahap kedua sekitar 200 eksemplar untuk masing-masing dari 11 mata pelajaran kelas IX.
Keterangan tersebut kemudian memunculkan perhatian terkait jumlah riil pengadaan dan nilai satuan buku yang dibeli sekolah.
Jika pengadaan yang dimaksud hanya sekitar 350 buku secara keseluruhan, maka nilai anggaran Rp402.619.000 akan menghasilkan harga satuan buku yang relatif tinggi.
Namun apabila pengadaan dilakukan sebanyak sekitar 350 eksemplar untuk masing-masing mata pelajaran, maka jumlah buku yang dibeli diperkirakan mencapai sekitar 3.850 eksemplar.
Dengan nilai anggaran Rp402.619.000, rata-rata harga buku berada pada kisaran lebih dari Rp100 ribu per eksemplar.
Sementara berdasarkan penelusuran GEMPAR.co di sejumlah toko dan distributor buku pendidikan, harga buku Kurikulum Merdeka tingkat SMP umumnya berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per buku, tergantung jenis, spesifikasi, dan penerbit.
Besaran anggaran tersebut mendorong perlunya penjelasan rinci terkait harga satuan dan mekanisme pengadaan buku.
Selain nilai pengadaan, keberadaan fisik buku hasil pembelian juga mulai menjadi perhatian.
Hasil penelusuran GEMPAR.co di lingkungan perpustakaan sekolah menunjukkan sejumlah buku tersimpan di area perpustakaan. Namun pada saat penelusuran, jumlah buku yang terlihat belum dapat diverifikasi dengan data keseluruhan pengadaan.
Hingga kini, data rinci terkait lokasi penyimpanan dan distribusi keseluruhan buku hasil pengadaan juga belum disampaikan pihak sekolah.
Kepala SMPN 2 Pakisjaya, Nur Affandi, mengatakan sebagian besar buku masih berada di tangan siswa dan belum dikembalikan ke sekolah.
“Masih dipegang siswa, belum dikembalikan,” ujar Nur Affandi saat dikonfirmasi GEMPAR.co.
Pernyataan tersebut menjelaskan buku masih digunakan untuk kegiatan pembelajaran siswa. Namun pihak sekolah belum memberikan rincian jumlah buku yang berada di tangan siswa maupun data inventaris keseluruhan buku hasil pengadaan.
Belum diketahui pula berapa jumlah buku yang tersimpan di perpustakaan dan bagaimana sistem pencatatan distribusinya.
Padahal seluruh pengadaan barang yang bersumber dari dana BOS seharusnya tercatat dalam administrasi inventaris sekolah dan dapat diverifikasi secara fisik.
Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2025, penggunaan dana BOS wajib dilakukan berdasarkan prinsip efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak SMPN 2 Pakisjaya belum memberikan rincian lengkap terkait total jumlah buku hasil pengadaan, harga satuan buku, vendor penyedia, maupun data inventaris distribusi buku kepada siswa.
GEMPAR.co masih terus melakukan penelusuran lebih lanjut guna memperoleh gambaran utuh terkait kesesuaian antara nilai pengadaan, jumlah buku yang dibeli, dan keberadaan fisik buku hasil pengadaan BOS tahun 2025 tersebut.
Laporan: Tim Investigasi GEMPAR.CO












