RUP Bapenda Karawang 2026 Rp16,1 Miliar, Anggaran Perjalanan Dinas dan Honorarium Dipertanyakan

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sorotan publik terhadap Rencana Umum Pengadaan (RUP) Bapenda Karawang Tahun 2026 terus menguat. Paket belanja listrik senilai Rp9,2 miliar dan pengadaan mobil pelayanan pajak Rp1,4 miliar menjadi perhatian karena dinilai perlu penjelasan terbuka kepada masyarakat.

Sorotan publik terhadap Rencana Umum Pengadaan (RUP) Bapenda Karawang Tahun 2026 terus menguat. Paket belanja listrik senilai Rp9,2 miliar dan pengadaan mobil pelayanan pajak Rp1,4 miliar menjadi perhatian karena dinilai perlu penjelasan terbuka kepada masyarakat.

KARAWANG | GEMPAR.co – Rencana Umum Pengadaan (RUP) Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2026 menjadi sorotan setelah total anggaran swakelola tercatat mencapai Rp16.175.383.200.

Berdasarkan penelusuran terhadap data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), sebagian besar anggaran dalam 63 paket kegiatan tersebut terserap untuk belanja jasa tenaga pelayanan umum, perjalanan dinas, honorarium, hingga belanja lembur.

Paket dengan nilai terbesar tercatat pada kegiatan “Belanja Jasa Tenaga Pelayanan Umum” sebesar Rp7,04 miliar dengan kode RUP 41743678.
Selain itu, terdapat paket serupa senilai Rp3,26 miliar pada kode RUP 41743805.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika digabungkan, dua paket tersebut mencapai lebih dari Rp10,3 miliar.

Dalam dokumen SiRUP, tidak dijelaskan secara rinci jumlah tenaga kerja, pola perekrutan, maupun indikator hasil pekerjaan dari paket bernilai miliaran rupiah tersebut.

Selain jasa tenaga pelayanan umum, anggaran perjalanan dinas juga mendominasi sejumlah kegiatan.

Beberapa paket perjalanan dinas dalam kota tercatat memiliki nilai cukup besar, antara lain:

  • Rp563,7 juta,
  • Rp355 juta,
  • Rp217,36 juta,
  • dan Rp74,8 juta.

Paket perjalanan dinas biasa maupun meeting luar kota juga muncul berulang dalam berbagai kegiatan pengelolaan pendapatan daerah.
Jika diakumulasi, total belanja perjalanan dinas mendekati Rp1,8 miliar. Besarnya anggaran perjalanan dinas tersebut memunculkan pertanyaan mengenai urgensi kegiatan dan efektivitas penggunaan anggaran daerah.

Selain perjalanan dinas, Bapenda Karawang juga mengalokasikan anggaran ratusan juta rupiah untuk honorarium narasumber, moderator, panitia, dan tim pelaksana kegiatan.

Beberapa paket honorarium tercatat mencapai:

  • Rp310 juta,
  • Rp115 juta,
  • Rp107,65 juta,
  • dan Rp126,025 juta.

Dalam daftar yang sama juga terdapat:

“Belanja Honorarium Narasumber KEJAKSAAN” sebesar Rp82,2 juta,
serta “Belanja Honorarium Narasumber POLRI” dengan nilai yang sama.

Belum diketahui secara rinci bentuk kegiatan maupun dasar perhitungan honorarium tersebut.

Di sisi lain, dua paket belanja lembur tercatat mencapai lebih dari Rp321 juta.

Padahal dalam dokumen yang sama juga terdapat penganggaran untuk PPPK paruh waktu, tenaga keamanan, tenaga kebersihan, dan tenaga ahli.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan terkait efektivitas pengelolaan sumber daya manusia dalam kegiatan swakelola.

Dalam ketentuan pengadaan pemerintah, swakelola merupakan metode pengadaan yang dilaksanakan sendiri oleh kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah.

Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021.

Regulasi tersebut juga menegaskan bahwa pengadaan barang dan jasa pemerintah harus menerapkan prinsip efektif, efisien, transparan, terbuka, bersaing, adil, dan akuntabel.

Selain itu, pengelolaan keuangan daerah wajib memperhatikan prinsip kewajaran dan kepatutan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Penelusuran juga menemukan ketidaksesuaian data dalam salah satu paket pengadaan.

Paket “Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota” dengan kode RUP 41743720 tercatat memiliki waktu pelaksanaan Februari 2022, padahal keseluruhan dokumen merupakan RUP Tahun Anggaran 2026.

Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari Bapenda Karawang mengenai rincian teknis kegiatan, dasar penyusunan anggaran, maupun alasan munculnya sejumlah paket bernilai besar yang menjadi sorotan publik.


Laporan: Dedy Mio | Editor: Redaksi GEMPAR.co

Follow WhatsApp Channel gempar.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Warga Pertanyakan Mekanisme Seleksi BPD Desa Curug, Soroti Tidak Dibukanya Keterwakilan Perempuan
Dugaan Pungutan SPMB di SMPN 2 Kutawaluya Tetap Bisa Dilaporkan ke APH Meski Uang Sudah Dikembalikan
Disdikbud Karawang Diminta Bertindak Tegas, Pungutan di SMPN 2 Kutawaluya Dinilai Tak Cukup Diselesaikan dengan Pengembalian Uang
BPD Soroti Realisasi APBDes 2025 Desa Kutaampel, Sisa Anggaran Rp17,83 Juta Disepakati untuk Bangun Jembatan
DBH Pajak dan Retribusi Desa Kutaampel Tembus Rp605,7 Juta, Warga Diminta Awasi Penggunaannya
Di Balik Mundurnya Nanik S. Deyang: Isu Kesehatan, Trauma Anggaran, dan Masa Depan Program MBG
PT Indorama Diduga Tolak Audiensi XTC Indonesia DPC Purwakarta, Persoalan Outsourcing Akan Dibawa ke DPRD
Disdikbud Karawang Akan Panggil Kepala SMPN 2 Kutawaluya Terkait Dugaan Pungutan SPMB

Baca Juga

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:47 WIB

Warga Pertanyakan Mekanisme Seleksi BPD Desa Curug, Soroti Tidak Dibukanya Keterwakilan Perempuan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:18 WIB

Dugaan Pungutan SPMB di SMPN 2 Kutawaluya Tetap Bisa Dilaporkan ke APH Meski Uang Sudah Dikembalikan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:52 WIB

Disdikbud Karawang Diminta Bertindak Tegas, Pungutan di SMPN 2 Kutawaluya Dinilai Tak Cukup Diselesaikan dengan Pengembalian Uang

Sabtu, 25 Juli 2026 - 00:54 WIB

BPD Soroti Realisasi APBDes 2025 Desa Kutaampel, Sisa Anggaran Rp17,83 Juta Disepakati untuk Bangun Jembatan

Kamis, 23 Juli 2026 - 09:07 WIB

DBH Pajak dan Retribusi Desa Kutaampel Tembus Rp605,7 Juta, Warga Diminta Awasi Penggunaannya

Update Terbaru