JAKARTA | GEMPAR.CO – Pengunduran diri Nanik S. Deyang dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memunculkan berbagai spekulasi. Selain menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), keputusan tersebut juga memicu dugaan adanya persoalan lain di balik mundurnya pejabat yang baru dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 8 Juni 2026 itu.
Melalui pernyataan yang diunggah di akun media sosialnya, Nanik menegaskan bahwa alasan pengunduran dirinya murni disebabkan kondisi kesehatan yang mengharuskannya menjalani pengobatan di luar negeri. Ia menyatakan telah menyampaikan langsung permohonan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapat persetujuan.
“Saya harus mundur demi kesehatan saya,” tulis Nanik.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Di saat bersamaan, Nanik juga membantah tudingan bahwa Program Makan Bergizi Gratis dijalankan untuk kepentingan politik menjelang Pemilu 2029. Menurutnya, mayoritas penerima manfaat program tersebut adalah balita dan siswa sekolah dasar yang bahkan belum memiliki hak pilih.
Ia menilai MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Trauma Pengelolaan Anggaran
Salah satu pernyataan yang paling menyita perhatian publik adalah pengakuan Nanik mengenai “trauma” terhadap pengelolaan keuangan negara.
Ia mengungkap Presiden Prabowo masih menginginkan dirinya tetap terlibat di BGN melalui Dewan Pengawas.
“Yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut,” tulisnya.
Pernyataan tersebut memunculkan berbagai tafsir. Meski tidak menjelaskan secara rinci sumber trauma yang dimaksud, publik mengaitkannya dengan kondisi internal BGN yang sebelumnya diterpa dugaan korupsi dalam pelaksanaan Program MBG.
Sebelum Nanik ditunjuk sebagai Kepala BGN, pendahulunya, Dadan Hindayana, telah diberhentikan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan program tersebut.
Bantah MBG Bermuatan Politik
Nanik juga menepis anggapan bahwa MBG merupakan instrumen politik pemerintah.
Menurutnya, program tersebut justru memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, terutama petani, peternak, dan pedagang pasar.
Ia mencontohkan, ketika sekolah libur selama tiga minggu dan distribusi MBG berhenti sementara, permintaan hasil pertanian dan peternakan ikut menurun sehingga harga komoditas jatuh.
Kondisi itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa MBG telah menciptakan rantai ekonomi baru dari sektor hulu hingga hilir.
Ada Apa dengan Nanik?
Hingga saat ini belum terdapat informasi resmi yang menunjukkan adanya persoalan hukum yang melibatkan Nanik S. Deyang.
Berdasarkan pernyataan yang telah disampaikan kepada publik, terdapat beberapa faktor yang dapat dipahami dari pengunduran dirinya:
- Kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan intensif di luar negeri.
- Keinginan menghindari tekanan akibat pengelolaan anggaran besar Program MBG.
- Tetap diminta Presiden Prabowo berperan sebagai pengawas sehingga tidak sepenuhnya meninggalkan BGN.
- Upaya menjaga keberlanjutan Program MBG di tengah sorotan publik terhadap dugaan korupsi yang menjerat kepemimpinan sebelumnya.
Menanti Penjelasan Pemerintah
Pengunduran diri Nanik terjadi pada saat Program Makan Bergizi Gratis masih menjadi salah satu program prioritas nasional dengan nilai anggaran yang sangat besar.
Publik kini menunggu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah mengenai siapa yang akan memimpin BGN berikutnya, bagaimana mekanisme pengawasan akan diperkuat, serta langkah-langkah untuk memastikan Program MBG tetap berjalan secara transparan, akuntabel, dan bebas dari penyimpangan.
Kejelasan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap salah satu program strategis pemerintah yang menyasar jutaan anak Indonesia.
Laporan: Dani Sopyan









